Saturday, April 2, 2011

Puisi anak IPA

Jangan berlari karena ku lumpuh oleh cintamu.
Jangan berlari karena ku tertatih oleh kasihmu.

Maaf atas lambatnya impuls cinta yang ingin kubalas.
Maaf atas buruknya luas penampang hatiku.
Maaf atas lambatnya kecepatan maksimum hatiku untuk membalas cintamu.
Maaf karena sinyal hatiku terhalang oleh radiasi dunia ini.
Maaf atas rendahnya suhu hatiku, aku tak punya cukup kalor tuk' menghangatkan cintamu.
Maaf frekuensi hatimu tak sama dengan milikku.
Mungkin kamu infrared, aku gamma.
Kita jauh dan berbeda.

Tapi,
Cintamu bagai dilatasi dari cerminan hati yang hampa.
Kamu indah.

Cintamu bagai asam dan basa yang hadir tuk' memberi warna di hatiku.
Merah. Biru.

Cintamu bagai ketinggian maksimum dari gerak parabola duniaku.
Diam dan tak bernilai. Tapi tepat di titik tertinggi hatiku.

Engkau buatku jatuh karena gaya gravitasimu yang tak bisa ku lawan.
Aku Jatuh cinta.

Cintamu bagai adrenalin yang membuat jantungku tak bisa diam.
Akupun kau buat bagai Panthera tigris yang mengaum. Aku bangga akan cintamu.

Dan
Aku mencintaimu.

Kau bagai RNAd dalam sitoplasmaku. Kau dibentuk tuk' mejadi duta dari pesan yang Tuhan kirimkan.
Bahwa kau dan aku tak terpisahkan. Kita satu.
Kau DNA ku.
Aku ada karena kau ada.

Kau bagai kodon stop yang menghentikan tiap gerak lurus beraturan hari-hariku.
Kau yang ada di hatiku dan mengalahkan tiap teori evolusi yang pernah ada.

Kau bagai ragi yang mengembangkan tiap senti adonan hatiku.
Bahkan kau bagai yoghurt yang asam tapi menyehatkan.

Kau bagai atom-atom penyusun hatiku. Kau elektronku, proton dan neutronku. Kau bagian terkecil dari hatiku sekaligus terbesar dalam hidupku.

Kau bagai peluang terbesarku tuk' mencapai diagonal ruang tata surya ini.

Garis(an) takdirmu menyinggung lingkaran hidupku yang berjari-jarikan cinta.



Pada akhirnya,
kau, aku, dan cinta kita berdua tercetak pada soal-soal Ujian Nasional nanti.
Fisika,kimia,matematika dan biologi akan menjadi saksi tertulis atas kisah puisi cinta ini.

Semoga Ujian Nasional nanti akan menjadi mawar harum atas cintaku padamu.
Yang harumnya bertransformasi menjadi kertas yang bertuliskan "LULUS".

Ku akhiri puisi ini dengan AMIN, karna ku tau' kisah puisi ini tak akan jadi abadi tanpa kuasaNya.
AMIN

-----------------------------------Selamat Menikmati---------------------------------------

No comments:

Post a Comment