Wednesday, May 11, 2011

Dunia dibalik Mata part 2


Ini sebenarnya adalah tambahan dari Dunia dibalik mata part 1.
Seperti yang sudah dibaca, kebanyakan orang-orang itu tinggal di daerah
(yang gue lihat di Jawa). Gue berpikir kenapa di daerah Jakarta atau Tangerang yang metropolitan ini gak gue temui kasus yang seperti di orang daerah ini.

Gue mencoba berpikir dan menelusuri jawaban dari pertanyaan ini. Dan gue dapet jawabannya.

Kurang lebih seperti ini :
          Jakarta atau Tangerang bisa dikatakan adalah kota dengan pengguna Internet yang besar. Tapi hal ini juga didukung dengan ajaran Internet sehat yang menjadi doktrin positif bagi para penggunanya. Tapi hal ini tidak langsung menjadi evaluasi akhir dari Internet user itu sendiri. Ini cuma direlevansikan dengan kasus dunia di balik mata part 1.
          Serbuan Internet dan teman-temannya (di daerah) tidak didukung dengan doktrin-doktrin positif untuk mendukung penggunaan sosial media yang seharusnya. Ditambah lagi dalam hal ini Film Indonesia masih didominasi oleh film horor yang menjurus ke porno. Apa mungkin karena harga tiket bioskop sangat murah atau dvd bajakan (terutama utk film Indonesia) yang banyak dipasaran sehingga mereka mengidolakan film-film yang seperti itu. Gue juga gak ngerti karena ini cuma pendapat yang subjektif bukan yang disertai penelitian.
          Kurang lebihnya, serbuan Internet itu datang mengagetkan orang-orang terutama di daerah. Alhasil Facebook user makin bertambah terutama di daerah. Tapi entah ini salah siapa, apa orang yang menyandang gelar sebagai Menteri Teknologi Informasi ini hanya melihat fenomena BB di Kota Metropolitan sampai-sampai teman-teman kita di daerah gak kebagian
perhatian juga. Entahlah.. Ini hanya pendapat subjektif gue.

Apakah alay menjadi bagian dari mutasinya penggunaan sosial media (dalam
hal ini Facebook) yang seharusnya untuk hal yang positif?
          Gue juga gak ngerti definisi alay itu yang bagaimana karna selama

ini gue cuma tau dari cara mereka menuliskan teks entah sms atau status di

Facebook. Dan kebanyakan 'orang-orang' itu cara menuliskan statusnya yaa

yang disingkat lah dan enggak dengan penggunaan kata-kata yang benar.

Misalnya : "Kok" --> "Kug" atau "Aku" -->"Qu" dan sebagainya. Kembali lagi ini adalah 


pendapat gue yang subjektif bukan objektif.

Dan ada lagi satu pendapat gue yang mungkin menjadi pendukungnya kisah
dunia dibalik mata ini. Handphone. Yaa handphone yang dilengkapi dengan aplikasi sosial media Facebook dan chatting dan dijual dengan harga sangat
murah. Kita pasti tahu bahwa kebanyakan handphone ini keluaran Cina dan
mungkin handphone ini laku keras di daerah-daerah.Kemungkinan handphone
ini menjadi suatu alat media yang paling mudah buat ngakses Facebook. Ditambah lagi promo-promo provider yang banyak memberi bonus internet
terutama untuk akses Facebook.Kembali lagi bahwa semua ini adalah
pendapat yang subjektif dan tidak bermaksud menghakimi.

Kesimpulannya adalah semua hal pada dasarnya diciptakan untuk hal yang
baik. Tapi, sayangnya ini tidak dibarengi dengan moral yang tebal untuk
membentingi diri dari teknologi yang disalah gunakan. Apalagi hal-hal ini
bersifat murah bahkan gratis.

Kayaknya sekian dulu cerita dan pendapat gue ini. Gue sangat berharap ini
bisa yaa menjadi suatu hal yang bisa dibaca dan menjadi pengetahuan baru.
Tapi sekali lagi ini semua hanya bagian dari pemikiran gue yang subjektif dan
gak menjadi penilaian mutlak bagi teman-teman kita di daerah.

Terima kasih,

Dunia dibalik mata berakhir disini~
Salam :)

No comments:

Post a Comment